Follow by Email

Senin, 09 April 2012

PENYAKIT TANAMAN


KLASIFIKASI PENYAKIT
Pendahuluan
       Di alam terdapat berpuluh-puluh ribu penyebab penyakit yang menyerang tumbuhan , dan setiap tumbuhan dapat diserang oleh bermacam-macam penyakit.
       Sebaliknya setiap jenis penyakit dapat pula menyerang satu atau beratus-ratus macam tumbuhan.
       Oleh karena kompleks dan luasnya masalah penyakit, maka perlu diadakan klassifikasi.
Penyakit tumbuhan dapat diklasifikasikan dalam berbagai cara :
1. Berdasarkan gejala, yang pada dasarnya dibedakan dalam tiga garis besar, yaitu nekrose, hipoplasia dan hipertropi.
2. Bagian tumbuhan yang terserang, seperti seed rot (busuk biji), kernel smut  (jamur api pada bulir), seedling blight (hawar semai), foot rot (busuk kaki), root rot (busuk akar), tuber rot (busuk umbi), bud rot (busuk mata tunas), fruit rot (busuk buah), pod rot (busuk polong), leaf spot (bercak daun), twig blight (hawar ranting), dan blossom blight (hawar daun)
3. Macam tanaman yang diserang, seperti cereal diseases (penyakit serealia), corn diseases (penyakit jagung) dsb.
4. Berdasarkan kerusakan yang ditimbulkan.
   Beberapa penyakit hanya menyebabkan kerusakan tidak berarti, sementara yang lainnya dapat menimbulkan kerusakan yang berarti.
5. Ada beberapa ahli yang mengklasifikasikan penyakit yang disebabkan oleh parasit dan virus, dalam hubungannya dengan cara timbulnya ke dalam 3 golongan.
    a. Penyakit Endemi, ialah apabila serangan penyakit tersebut meluas  atau menurun,  dengan tingkat serangan tinggi atau rendah, dan berjalan dari tahun ke tahun.
b.  Penyakit Epidemi atau Epiphytotic, adalah penyakit yang timbul dan meluas, tetapi secara periodik.
    Istilah epiphytotic berarti berarti yang dikhususkan utk tumbuhan.
   Ilmu yang mempelajari epidemi disebut epidemilogi.
c. Penyakit sporadis, merupakan penyakit yang timbulnya dengan interval yang tidak teratur, demikian pula dengan lokasinya.
6. Berdasarkan Penyebab Penyakitnya
       Penyebab penyakit dibedakan menjadi dua golongan, yakni biotis (parasit) dan abiotis (non parasit) yang setiap golongan dapat dirinci sbb :
BIOTIS (PARASIT)
       Jamur
       Bakteri
       Virus
       Nematoda
       Tanaman tingkat tinggi
       Mycoplasma, Ricketsia
       Lain-lain agensia
ABIOTIS (NON PARASIT)
       Difisiensi unsur hara
       Keracunan mineral
       Kelembapan, suhu, sinar yang tidak sesuai
       Kekurangan oksigen
       Polusi
       Reaksi tanah (pH)



SYMTOMATOLOGY ATAU ILMU GEJALA PENYAKIT
  Gejala dapat terlihat/diketahui karena adanya perubahan, bau, rasa atau rasa rabaan.

  Gejala penting artinya untuk penelitian anatomi patologi, sedangkan gejala luar bersifat morfologis.
  Kedua-duanya adalah keadaan penyakit yang ditunjukkan oleh bagian tubuh  tumbuhan atau seluruh tubuh  tumbuhan
  Gejala adalah keadaan patologi dan fisiologi dari tumbuhan terhadap aktivitas dari patogen atau faktor yang lain
  Gejala adalah keadaan patologi dan fisiologi dari tumbuhan terhadap aktivitas dari patogen atau faktor yang lain
  Melihat sifatnya geiala dapat dibagi atas gejala lokal dan sistemis.

  Gejala lokal yaitu suatu gejala yang terbatas, sedang gejala sistemis ialah gejala yang meliputi seluruh tubuh tumbuhan.
Secara morfologi dan anatomi gejala penyakit tumbuhan dapat dibagi ke dalam 8 golongan, yaitu :
1. Hiperplasia;
2. Hipoplasia;
3. Perubahan warna;
4. Kekeringan atau layu;
5. Nekrose;
6. Sekresi;
7. Tumbuhnya jamur pada permukaan dan dalam jaringan tumbuhan;
8. Kerusakan  oleh serangga atau binatang yang lain.
Golongan Gejala Penyakit Tumbuhan
1. Gejala hiperplasia, ialah pertumbuhan luar biasa oleh Perpanjangan atau pembesaran sel-sel, dinamakan juga hipertropi.
2. Hipertropi  menunjukkan pertumbuhan yang luar  biasa dari suatu organ atau bagian, dan ukuran, seperti keriting (curl), kudis (scab), inumesensi, tumefaksi, fasikulasi dan proliforasi.
a. Keriting adalah gejala pembengkakan tunas atau penggulungan daun sebagai akibat pertumbuhan setempat dari suatu bagian anggota tubuh.
b. Kudis  terdiri dari bercak-bercak yang tersembul ke atas, kasar dan letaknya terasing sebagai akibat dari pertumbuhan yang  luar biasa dari Sel-sel epidermis dan jaringan di bawahnya dari- daun, buah, batang, atau umbi. Dinding sel dari kudis biasanya bergabus.
d. Intumesensi adalah gejala dari kekurangan zat makanan, disebabkan karena penggembungan setempat dari sel-sel epidermis atau sub- epidermis sebagai akibat dari penumpukan air yang berlebihan
e. Tumefaksi (tumefaction) adalah penumpukan dari bahar makanan yang berlebihan di atas bagian  yang penting dari batang, sehingga menimbulkan pembengkakan.
  Puru-puru (galls), bintil-bintil (knots), kutil-kutil (warts) dan lain-lainnya adalah bentuk-bentuk dari tumefaksi, dan ini adalah pembengkakan setempat yang meliputi seluruh anggota yang terserang.
f.Fassikulasi (fasciculation ), pertumbuhan secara kebetulan dari suatu organ, seperti penyakit akar rambut (hairy root) dan penyakit sapu (whitches broom). Apabila anggota yang silindris menjadi pipih, sehingga seolah-olah beberapa anggota tubuh menjadi satu, menyebabkan apa yang disebut fassiasi (fasciation)
g. Proliferasi ialah suatu pertumbuhan yang melebihi ukuran normal, artinya tumbuh terus selelah mencapai ukuran yang semestinya.
   Kallus (callus) adalah suatu pertumbuhan yang berlebihan dari jaringan karena luka.
   Apabila hal ini diketemukan di sekitar kanker dapat dianggap sebagai suatu usaha penyembuhan dari tanaman.
2. Gejala hipoplasia ialah pertumbuhan regresif dengan kekurangan selsel.
 a. Kerdil (dwarfing), ialah suatu gejala hipoplasia. Dalam haLini tanaman tidak dapat mencapai ukuran yang normal.
b. Bercak kuning (yellow spot).
        Bercak kuning dapat merupakan sifat genetik dari tanaman yang mempunyai warna daun, beraneka, tetapi dapat juga disebabkan  adanya infeksi virus, dikenal dengan istilah mosaik.
  Bercak tersebut terjadi hampir semuanya di antara vena, dan dinamakan mosaik intervena (vein banding), misalnya : Tobaco mozaic virus dan abutilon virus.
3. Perubahan warna
  1. Daun menguning.
       Daun-daun tanaman dapat bembah warnanya menjadi kuning karena umur dan kemudian akan gugur. 1
  Daun seperti itu mempunyai kandungan Ca tinggi dan K rendah.
  Daun-daun juga dapat berubah warnanya menjadi kuning karena kekurangan air, atau karena serangan jamur, virus, bakteri atau karena penyakit defisiensi.
  Menguningnya daun adalah gejala kekurangan Fe dan P. Kekurangan sinar menyebabkan daun berubah menjadi keputih-putihan, dan batang tumbuh memanjang (etiolasi)
  Kadang-kadang vena tersebut berwarna lebih muda dibanding mesofil, dikenal dengan istilah vein clearing.
  Bercak kuning dapat juga disebabkan oleh jamur. Bercak ini bentuknya hampir bulat dan terdapat lebih banyak pada ujung daun, misalnya bean rust (karat buncis) dan tomato mildew.
  Sedang bercak yang disebabkan virus bentuknya tidak teratur.
  Sering terjadi nekrose padapusat  tersebut bercak (misal pada daun Petunia).
  Bagian daun yang diserang jamur sering pinggir-pinggirnya kering,
  misalnya pada potato blight, yang disebabkan oleh Phtytophthora infestans, leaf spot pada kobis yang disebabkan oleh Altemaria brassicola, bercak daun yang disebabkan oleh Cercospora arachidicola pada kacang tanah
  Warna kuning, yang disebabkan oleh penyakit defisiensi, bentuknya juga tak teratur, tetapi  misalnya lebih besar, jika dibandingkan dengan bercak yang disebabkan oleh virus.
c. Merah dan merah keungu-unguan disebabkan oleh pembentukan antosian pada tanaman yang menderita kekurangan P; misalnya pada tanaman jagung.
d. jaringan yang berwarna coklat menunjukkan adanya serangan die back (mati ujung). Leher akar berubah warnanya menjadi coklat saat leher akar mulai menebal.
e. Daun keperak-perakan (silvery shine) dapat disebabkan oleh thysanoptcra (thrips), Acarina (mites),Organisne itu menusuk sel epidermis, sehingga sel kering, dan kemudian sel tersebut akan terisi dengan udara.
f. Bercak air (water spot) ialah sebenarnya bercak yang terjadi karena dinding sel telah mati, itu menjadi permeable.
Bercak air ini kemudian berubah warnanya menjadi coklat sekitar bentuk bulat bekas tusukan serangga, misalnya Helopettis antonii pada daun teh.
g. Bercak seperti berlemak (fattyspot), kadang-kadang terdapat pada buncis dan menyerupai bercak air. Sel-sel dalam bercak-bercak gelap pada jaringan itu mati, dan air masuk ke ruang di antara selsel.
Sering bercak tersebut dikelilingi oleh suatu jalur melingkar yang warnanya lebih terang (halo blight).
  Fatty spot merupakan ciri penyakit bakteri.




BATASAN-BATASAN DAN ISTILAH
Hampir semua organisme penyebab penyakit bersifat parasit, yakni untuk hidupnya organisme tersebut mendapat makanan sebagian atau seluruhnya dari jaringan tumbuhan hidup.
Lawannya adalah saprofit, yakni untuk hidup organisme tersebut mampu mengambil makanannya dari bahan organik mati.
Organisme penyebab penyakit, disebut patogen.
Suatu jasad sprofit mungkin bisa menghasilkan suatu produk, misalnya toksin, dengan toksin ini jasad tadi mampu menyebabkan penyakit, maka jasad tersebut dikatakan patogen, walaupun prosesnya tidak langsung.
Patogen dapat menyebabkan penyakit dengan cara :
  1. Mengkonsumsi isi seltumbuhan
  2. Membunuh atau mengganggu metabolisme  sel tumbuhan melalui toksin, enzim, atau zat tumbuh
  3. Melemahkan tumbuhan dengan  menghisap isi sel untk digunakan sendiri
  4. Memblokir jaruingan pembuluh
  5. Patogenesis adalah kemampan patogen untuk menimbulkan penyakit, melalui  suatu rangkian patogenesis.
Ada beberapa proses yang penting dalam patogenesis, yakni :
  1. Produksi dan penyebaran inokulum
  2. Inokulasi tumbuhan yang peka oleh inokulum
  3. Penetrasi tumbuhan peka oleh patogen dan
  4. Infeksi dan terjadinya penyakit pada tumbuhan yang peka.
Inokulum merupakan bagian dari patogen yang mengadakan kontak dengan tumbuhan inang.
Inokulum terdapat dalam bentuk aktif (konidium, spora, miselium, dsb) atau bentuk pasif (spora dorman, sklerotium, klamodospora dsb).
Inokulasi adalah suatu proses patogen atau unit-unit reproduksinya mengadakan kontak dengan tumbuhan.
Setelah mengadakan inokulasi inokulim patogen tertentu (konidiumjamur) harus berkecambah, terbentuklah germ tube (tabung kecambah) yang selanjutnya membentuk apresorium, berfungsi sebagai alat penetrasi.
Penetrasi adalah masuknya patogen ke dalam jaringan tanaman inang.
Penetrasi dapat melalui kutikula (scab pada apel), melalui sel epidermis (powdery mildew), atau ke dalam ruang interseluler, kemudian menuju ke dalam sel atau jaringan tumbuhan.
Patogen dapat masuk melalui luka;lubang alami
seperti. stomata, lenti sel, dan hydatoda; atau langsung menembus permukaan tanaman.
Beberapa patogen dapat masuk hanya melalui salah satu dari tiga jalan tersebut, tapi ada pula yang dapat masuk melalui lebih dari satu jalan.
Penetrasi langsung melalui permukaan tanaman oleh patogen terjadi karena adanya tekanan mekanik pada permukaan, atau adanya sekresi enzim dari patogen, tetapi biasanya merupakan kombinasi dari keduanya.
  Infeksi adalah proses patogen mengadakan kontak dengan sel-sel jaringan tumbuhan yang peka dan mengambil makanan darlpadanya.
  Untuk terjadi infeksi maka organisme harus dalam keadaan patogenik, tumbuhan inangnya peka, dan kondisinya sesuai.
Periode inkubasi adalah merupakan interval antara infeksi pada tumbuhan dan timbulnya gejala penyakit.
Lamanya periode inkubasi biasanya ditentukan oleh kekhususan kombinasi antar patogen, inang dan lingkungan.
untuk kebanyakan penyakit, khususnya pada tanaman semusim lamanya periode inkubasi bervariasi dari beberapa hari sampai beberapa minggu.
  Untuk penyakit-penyakit lain, seperti virus, periode inkubasi bisa mencapai beberapa bulan sampai beberapa tahun.
  Invasi menunjukkan fase terakhir dari infeksi selama patogen mengadakan penyebaran, baik di luar maupun ke dalam jaringin tumbuhan.
Invasi diikuti perkembangan infeksi dan merupakan hasil pertumbuhan atau reproduksi patogen.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar